Panduan melaksanakan ‘live’ di Jepang (bagian 1)

Bulan Mei lalu sebagian dari pembaca setia RekON mungkin telah mendengar kabar bahwa band visual kei asal Jakarta MEA, menjadi band visual kei asal Indonesia pertama yang menggelar tur di Jepang. Bagi teman-teman musisi independen yang penasaran dan ingin mengikuti jejak MEA melakukan tur di Jepang, melalui serial artikel ini rekan RekON, Ilham Syahrulla, akan membahas hal-hal yang perlu diperhitungkan. Nah, mari kita bongkar bareng-bareng yuk perihal ini!

Budaya dan cara industri musik di Jepang bekerja sangat berbeda dengan di Indonesia, terutama sistem kerja dan budaya live house di Jepang yang bisa membuat musisi (independen) dari luar Jepang yang hendak menggelar tur atau konser di Jepang kaget. Bahasan di bagian pertama ini akan memfokuskan pada sistem ‘noruma’ atau ‘norma’ dan ‘cash back‘ yang berlaku jika kamu ingin melakukan ‘raibu’ (ライブ, live) di Jepang. Sekadar catatan, kalau di Indonesia kata ‘konser’ digunakan secara umum untuk pertunjukan musik jenis apa saja, di Jepang istilah ‘konsaato’ (コンサート, konser) lebih digunakan untuk musik klasik dan semacamnya. Untuk pertunjukan genre musik lain seperti rock atau pop, yang lebih lazim digunakan adalah istilah live.

edge-mea

Norma yang dimaksud dalam bahasan artikel ini adalah kuota jumlah penonton yang harus kamu penuhi. Masing-masing live house di Jepang memberlakukan sistem norma yang berbeda-beda. Salah satu poin yang menjadi acuan adalah ukuran live house, namun rata-rata sistem norma yang diberlakukan adalah kuota jumlah minimal 10 orang tamu. Sistem norma yang paling ringan seperti ini biasanya berlaku untuk live yang digolongkan sebagai ‘event’, yang menghadirkan lebih daripada 3 cast talent (artis penampil) di hari itu.

Jika kamu berhasil menjadi cast talent dalam suatu event, pada saat melakukan soundcheck, kamu akan diberi 3 lembar kertas lampiran yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda (akan dijelaskan di artikel-artikel berikutnya). Salah satu kertas itu merupakan kertas norma yang berisi lampiran kolom nama-nama tamu kamu yang wajib kamu isi. Sebaiknya kamu mengisi 15 kolom nama pertama dengan nama-nama fans loyal kamu yang sudah mem-booking tiket kepada kamu dan berjanji untuk datang ke live kamu. Di Jepang memang terkadang pembelian tiket bisa dengan cara booking melalui surat elektronik (e-mail) saja ke band yang bersangkutan. Terkadang uang tiket harus ditransfer ke rekening band, terkadang tidak perlu membayar dulu, karena membayarnya baru nanti di hari H sebelum memasuki live house. Sistem booking tiket macam ini memang bergantung kepada saling percaya antara band dan penggemar setia. (Ini juga penyebab mengapa di pintu masuk saat menyerahkan tiket untuk diperiksa, penonton ditanyai band mana yang mau ditonton. Potongan tiket akan diletakkan di kotak bertuliskan nama band bersangkutan untuk dihitung nantinya.) Sisa kolom di daftar itu bisa kamu isi dengan tamumu yang lain karena mulai dari sini sistem norma akan berlaku.

Selesai melakukan live, semua cast talent tidak diperkenankan untuk pulang dan wajib menunggu sampai event selesai (kesempatan bagus bagi kamu yang mau berkenalan dan foto-foto dengan cast lain!). Ini dikarenakan pihak penyelenggara akan melakukan perhitungan dari penjualan tiket. Jika didapati kekurangan dalam norma, karena jumlah tamu yang datang tidak sesuai yang kamu janjikan sebelumnya (misalnya kamu wajib membawa 10 tamu namun yang datang hanya 1 orang atau bahkan nihil) cast talent tersebut wajib bertanggung jawab membayarkan minus (kekurangan) dari norma tersebut.

Minus norma tersebut dihitung berdasarkan harga tiket. Jadi misalnya harga tiket rata-rata live di Jepang adalah ¥3.000, dan minus kamu adalah 9 orang, kamu harus membayar ¥3.000 x 9 = ¥27.000 (nyaris 3 juta rupiah).

Jangan urungkan dulu niatmu!

mea-shounenki

Di sinilah pentingnya untuk memiliki setidaknya 20 orang atau lebih fans di Jepang. Karena selain sistem norma, live house di Jepang juga memberlakukan sistem cash back. Sistem cash back diberlakukan jika kamu berhasil membawa tamu lebih dari 20 orang. Cash back sebenarnya istilah live house di Jepang untuk persentase yang kamu dapat dari penjualan tiket.

Walaupun masing-masing live house memberlakukan sistem cash back yang berbeda-beda namun 50% cash back adalah sistem yang paling umum. Cash back juga dihitung berdasarkan harga tiket, semisal harga tiket rata-rata live di Jepang adalah ¥3.000, maka cash back yang akan kamu dapat adalah kelipatan dari ¥1.500. Kalau kamu berhasil membawa 23 orang tamu, kamu berhak mendapat cash back 50% dari 3 orang tamu tersebut ¥ 1.500 x 3 = ¥4.500.

Jadi jangan menyerah dulu dan bayangkan jika kamu berhasil membuat live house tersebut penuh sesak dengan fans kamu!

Lain kali, kita lanjutkan lagi ya pembahasan mengenai cara menggelar live di Jepang ini. Tinggalkan pertanyaan-pertanyaan yang masih mengusik rasa penasaranmu di bagian komentar!

Teks dan foto oleh Ilham Syahrulla

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s